Showing posts with label fanfic. Show all posts
Showing posts with label fanfic. Show all posts

笑わせても良い

sebenernya besok gw ada kuis kanji.. jam 8 baru pulang dari kampus, besok masih harus latian band,, tapi pas buka2 baca2 blog Sara ama Tizza, gw nemuin fanfic bikinan Tizza.. cerita yg super manis ini sukses ngebuat gw nyengir, ngakak, ampe mata berkaca-kaca =3
rekues buat yg suka fanfic manis,, baca!! *kyk promosi brondong caramel aja ="=a* wkwkwk
gw bener2 ngerasa terhibur, banget! hahahahhaha
MAKASIH, TIZZAAA!!! MAKASIH, SARAAAA!!
kalian memang benar2 kakak beradik yg ero  keren! d(*v*)b

yak lanjut ke topik selanjutnya~
kemaren ngubek2 4shared pgn nyari lagu yg judulnya  ジュリアの傷心, akhirnya dapet juga.. hakhahkahkak *tepok tangan*
lagunya enak, beneran, kagak bohong *manggut2*
emang sih lagu lama, tapi asik buat cengar cengir XD *lho??*
lagu ini pernah dinyanyiin ama Hyde pas di acara... hmm,, lupa namanya *garuk2* pokonya yg pembawa acaranya tuh namanya Matthew Minami,, rambutnya pirang, pake baju necis, muka klo blh jujur kaga ganteng, tapi lucu, koscak~ =D

buat hiburan laen, kemaren ngubek2 Yutub liyat2 video trus nemu bbrp lagu enak dari Acid Black Cherry yang ternyata vokalis Janne De Arc, Yusa alias ero jij (kakek ero)
"Tizza! Sara! ini guru ero kaliaann~~" *dlempar granat*
lagunya enak tapi videonya... aaarrrr..... hmmm...... ga bisa komentar deh =_=a
yg bagus ada tp yg ero banyak! *niruin iklan hit obat nyamuk* >P

ini PV yg sdikit terkesan menyedihkan


ada juga PV yg ero, bener2 Ero Jiji >_<


tapi yg jadi favorit gw yg ini!! <3


ok deh, brah... sip kan? wakakakakkkak *mule gaje*
sekian laporan hari ini, jarang2 gw nulis kyk gini... biasanya melow, klo ga ya ngepost fanfic edisi penulis amatiran, ato ga menggapai cita2 jadi penulis puisi,, hahahahha
yaaahh,, ENJOY AJA~!! =3

では (・ω・)/

ジュイの初恋★

“dari atas panggung ini, meskipun lampu sorot bersinar dengan teriknya… aku masih bisa melihatmu dengan jelas. Ya, kau… gadis berbaju merah yang tersenyum manis saat aku bernyanyi dan menangis saat aku menyanyikan melodi yang menyedihkan. Aku tahu, kau adalah orang yang selama ini aku cari.”

Malam itu adalah malam Natal saat aku menemukan hadiah Natal yang selama ini aku pinta pada Tuhan.
Aku bersama teman-teman satu bandku, Vidoll, akan mengadakan konser Christmas Eve di Shibuya AX. Manajer mengingatkanku kalau kami akan mulai satu jam lagi.

“oy, Jui! Mau kemana kau?” Rame menghentikan langkahku saat aku hendak keluar lewat pintu belakang
“aku ingin beli kopi hangat di mesin penjual di seberang jalan. Sebentar saja, aku akan segera kembali!” aku menutup pintu di belakangku dengan bunyi ‘klek’ pelan 
Entah disebut keberuntungan atau bukan, salju malam ini turun agak sedikit lebih banyak dari hari sebelumnya tapi hal ini menambah keindahan di antara keremangan lampu-lampu toko.

Disana berdiri sebuah mesin penjual otomotis dan aku langsung memasukkan koin 100yen ku. Dalam sekejap secangkir kopi panas mengepul menggoda
“Cha, kau mau minum apa?” dua orang gadis di sebelahku sedang menatap mesin penjual otomatis sambil memilih apa yang hendak diminum
“kopi panas sepertinya enak” suara seorang gadis yang menjawab terasa tidak asing, aku memberanikan diri mencuri lihat di bawah kacamata hitamku

Seorang gadis kira-kira masih menginjak umur 20 sedang tersenyum sambil mengobrol dengan teman perempuannya. Bola matanya sedikit lebih besar, berbeda dengan gadis Jepang biasanya. Rambut coklat sebahu terlihat serasi dengan jaket merah yang dipakainya. Namun dari semuanya, aku merasa pernah melihatnya, tapi aku lupa dimana.

Tiba-tiba gadis itu berbalik dan menatapku. Ia sadar bahwa aku sedang memperhatikannya lalu ia membungkuk masih dengan senyuman yang menghias bibirnya
“cepat Cha! Nami mengirim pesan katanya gerbangnya sudah dibuka!”
Gadis berjaket merah itu berbalik dan menyusul temannya, meninggalkan aku yang masih melihat sosoknya menjauh

Aku tidak membiarkan fantasi menyita waktuku, dengan cepat aku menghabiskan kopiku yang sudah menjadi dingin lalu kembali lagi ke gedung konser
“kita bersiap sekarang! Ayo semuanya, berdoa untuk keberhasilan konser malam ini! Vidoll, banzaaaaaaiiii!!!!” 5 buah tangan bertumpuk saling menggenggam erat memberi semangat

Lampu gedung mulai dimatikan dan kini lampu panggung menyala terang. Satu persatu dari kami tampil menampakkan diri di atas panggung, masih berusaha menyesuaikan mata untuk melihat dalam cahaya yang menyilaukan.

Melodi mulai mengalun dan aku mulai membawakan lagu pembuka, semua fans berteriak-teriak memanggil nama kami. Aku senang berdiri di atas sini karena aku bisa merasakan kalau aku ini masih hidup.
Tapi di antara teriakan-teriakan fans, ada sebuah suara yang terdengar berbeda, suara yang baru saja kudengar, gadis itu ada disini!

Mataku mencari meskipun kemungkinannya kecil untuk menemukannya di tengah penonton yang sebanyak ini. Tanpa perlu perjuangan keras, aku berhasil menemukannya. Di bagian tengah barisan pertama, ia berdiri dalam balutan one-piece dress dengan warna merah yang sama dengan jaketnya. Tersenyum sambil melambaikan tangan padaku, bibirnya mengucap ‘Jui’ berulang kali seolah aku tidak bisa mendengar suaranya.

Tanpa terasa waktu berjalan agak lebih cepat dari biasanya. Permintaan encore terakhir dari mereka, Hatsuyuki (初雪) . Aku bernyanyi dengan menyertakan perasaanku di dalamnya. 
Seiring dengan lagu itu, air mata yang mengalir dari matanya terlihat jelas dari jarak sedekat ini. Seketika itu juga hatiku tersentuh dan aku ikut menitikkan air mataku.

今日本当に楽しかった。ありがとう、皆! 愛してるぜ!
"hari ini sungguh menyenangkan. aku mencintai kalian semua!" 

Seusai konser, perhatianku masih tertuju pada gadis berbaju merah itu. aku yakin pernah melihatnya di suatu tempat dan aku sadar kalau ia bukanlah gadis biasa yang bisa menyita konsentrasiku seperti sekarang.
Shun, Giru, Rame, dan Tero sedang membersihkan riasan wajah mereka. Aku mengambil rehat sejenak, duduk di depan kaca sambil menyeruput minuman penambah tenaga rasa lemon.

Suara pintu pun diketuk. Moriyama san, salah satu staf memanggilku keluar dari ruangan,
“ada apa, Moriyama san?”
“begini. Tadi ada seorang gadis memohon padaku ingin bertemu denganmu. Ia bilang ia datang dari tempat jauh dan datang ke Jepang demi menonton konser kalian. Ia ingin sekali menyapamu sebelum ia pulang ke negara asalnya”
“gadis itu datang dari mana?”
“hmm.. kalau aku tidak salah dengar, ia bilang ‘Indonesia’ “

Debaran jantungku mendadak menjadi cepat. Aku baru saja mengingat sebuah surat yang kuterima beberapa bulan sebelumnya beserta paket berisi pakaian yang unik, disana tertulis Indonesia dan pengirimnya………… 
“nah, silakan, nona.”

Moriyama san membawa gadis itu ke hadapanku. Gadis berbaju merah, tersenyum dengan mata berkaca-kaca

始めまして、フェリシアと申します。宜しくお願いします。さっきのライブが本当に最高でした
"perkenalkan, aku felicia. senang bertemu denganmu. Live tadi sungguh sangat keren!" 

Sekarang aku ingat. Ia adalah gadis yang ada di foto itu. gadis yang menulis surat dan mengirimkan paket berisi barang-barang unik beberapa bulan kemarin. Di suratnya tertulis bahwa ia berjanji akan menonton konser Vidoll dan bertemu langsung denganku.
ええ、ジュイです。宜しく
"sama2. aku Jui. senang bertemu denganmu." 

Apa ini?! aku tidak bisa mengatakan hal lain selain memperkenalkan diriku yang tentunya sudah ia tahu
本気を伝えて、私今超嬉しいです。おジュイさんに会えて、本当に幸運だと思います。
"aku ingin mengatakan yang sebenarnya, sekarang aku sangat bahagia. dapat bertemu denganmu, benar2 keberuntungan buatku." 

Senyuman terulas di bibirnya, ia terlihat manis dalam jarak yang sama sekali tidak jauh dari pandanganku.

ありがとう
"terima kasih" 

Lagi-lagi, aku hanya bisa menjawab kaku. Aku tidak mengerti ada apa denganku hari ini.

お邪魔して、すみません。直ぐ国へ帰ります。ジュイさん、お元気して下さいね
"maaf aku telah mengganggu. aku akan segera kembali ke negara asalku. Jui, tolong jaga kesehatanmu ya" 

あの、ちょっと。今暇のか? ラーメンを食べようか?
"ah, tunggu sebentar. apakah sekarang kau ada waktu luang? mau makan ramen?" 

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengutarakan maksudku sebelum gadis itu beranjak pergi. Walaupun aku tahu hal ini pasti dilarang oleh manajerku tapi aku tidak bisa mundur dari keingintahuan yang terus mengetuk hatiku. Mungkin kata-kata yang tepat untuk saat ini adalah aku jatuh cinta padanya.

Setelah meminta izin, dengan berat hati manajer mengizinkanku pergi bersama gadis itu tetapi ia mengingatkan untuk langsung pulang beristirahat setelahnya.

Warung ramen favoritku tidak begitu penuh malam itu, sungguh beruntung, pikirku. Kami duduk di kursi yang terletak di sudut, agak menjauh dari pandangan orang dengan alasan aku tidak mau ditemukan disini oleh fansku.

これが君の始めに日本に来たの?
"apakah ini pertama kalinya kau tiba di Jepang?" 

はい、そうです。ヴィドールとジュイさんのためだけです。
"ya. demi Vidoll dan Jui." 

Aku tidak menyangka, gadis itu cukup fasih berbicara bahasa Jepang meskipun terkadang tak lepas dari kesalahan dasar yang biasa orang asing lakukan. Aku maklum karena ia mencoba begitu keras untuk menjawab semua pertanyaanku.

Dengan cepat, waktu telah menunjukkan hampir tengah malam. Tapi perasaan yang aneh dalam hatiku ini mengatakan, aku masih ingin bersama dengannya lebih lama lagi.

Saat itu udara masih terasa menusuk tulang, awan panas mengepul keluar dari mulut kami yang berusaha menghangatkan diri dalam perjalanan pulang menuju hotel tempat gadis itu menginap. Tempatnya tidak jauh dari Shibuya AX dan hanya dalam waktu kurang dari 15 menit dengan menggunakan kereta bawah tanah, kami sudah sampai di lobby hotel yang hangat.

今日、色々なありがとう。チャンスがあれば、またジュイさんに会いたいです。
"hari ini terima kasih banyak. kalau ada kesempatan lagi, aku ingin bertemu dengamu sekali lagi." 

Matanya kembali berkaca-kaca. Aku jelas tahu apa yang ia rasakan. Satu hari tidak mungkin cukup untuk memuaskan hasratmu untuk bertemu dengan orang yang kau sukai.

うん、きっと会おうぜ。君にありがとう。
"un, pasti bertemu lagi. terima kasih." 

Tanpa kusangka, gadis itu memelukku lalu menangis.

いつも元気にしなければなりませんね。病気しないで下さい。私はヴィドールが大好き。そして….
"kau harus selalu sehat ya. tolong jangan sakit. aku sangat menyukai Vidoll..." 

Ia melepaskan pelukannya lalu dengan wajah merona merah ia memberanikan diri menatap mataku lekat-lekat

自分の心からジュイさんが愛しています。
"dari hati yang terdalam aku mencintaimu, Jui." 

Aku terperanjat tetapi tidak terlalu kaget mendengar pernyataannya. Tapi aku kagum dengan kesungguhan hatinya yang mampu buatku tidak bisa menahan diri untuk balas memeluknya.

俺はここにずっと待ってる。
"aku akan selalu disini menunggumu." 
 
Gadis itu tersenyum lebar, lalu mengangguk. Ia mengecup pipiku lalu membungkuk, pamit.

ありがとう、ジュイ
"terima kasih, Jui."
Sosoknya menghilang perlahan. Yang tersisa hanyalah wangi parfum bekas kehadirannya di depanku.

Seiring waktu berlalu, gadis itu tidak pernah lupa untuk menghubungiku. Aku mulai lebih mengenalnya dan semakin aku tahu, semakin aku tidak bisa melupakannya. Aku benar-benar menyukainya lebih dari saat pertama aku jatuh cinta padanya.

Aku memandangi kemeja bercorak unik itu dan memutuskan untuk memakainya hari ini. Aku mengambil foto lewat ponselku dan mengirimkan hasilnya lewat e-mail padanya.

Balasnya, ia sangat senang juga sangat kagum akan ketampananku. Ia mampu buatku tertawa lewat perhatiannya. Dan setelah setahun berlalu, hari ini aku akan bertemu dengannya lagi, di tempat yang sama ketika pertama kali kami bertemu. 自動販売機 (jidouhanbaiki = mesin penjual otomatis)

Untuknya, aku membuat sebuah lagu. 初恋 - リマインドストーリ
(hatsukoi - remind story)  

君だから、愛すると愛される事の感情出来る。ありがとう、チャチャ。
"karena kau, aku bisa merasakan bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. terima kasih, chacha" 



あなたを思えば、少しだけ明日が明るく見えたよ。会いたい。




では (・ω・)/

Lib[lo]ve part 4 - ending

Chapter 4            The Sweet Beginning

                Pagi cerah menyambut musim panas tahun ini, matahari bersinar begitu teriknya, menyebarkan hawa panas yang menyesakkan.
“Pagi, semuanya!” sapa Tizza ceria
“pagi” sahut Cha-cha yang sedang melahap sandwich sebagai sarapan
“pagi, sayang…” ucap Shun seraya mengelus kepala kekasihnya itu
“lho, Jui? Kau sakit?” Tizza heran melihat Jui yang diam sedari tadi hanya menyeruput teh dingin
Tanpa sadar, Cha-cha yang duduk di sebelahnya langsung berdiri dan memegang kening Jui
“kau demam” raut khawatir jelas tergambar di wajah gadis itu
“aku tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku” Jui tersenyum tapi lebih terlihat seperti sedang berusaha menahan sakit
“ayo, aku antar ke kamarmu. Kau harus istirahat, Ju!” Cha-cha memegang tangan Jui dan langsung membawanya untuk beristirahat 
Tizza dan Shun hanya saling berpandangan, bingung dengan kejadian yang berlalu begitu cepat di mata mereka. Tiba-tiba saja kedua sahabat mereka menghilang dari pandangan padahal rencananya hari ini mereka akan berlayar ke pulau seberang. Terpaksa, hanya Tizza dan Shun yang pergi.

Sementara itu di kamar, Jui berbaring dengan kompresan di keningnya. Cha-cha tidak beranjak sedikit pun dari sisi pria itu setelah memberikan obat penurun panas. Mata Jui terpejam menandakan ia telah tertidur. Cha-cha memandangi wajah Jui dengan tatapan sedih, lalu ia menggenggam sebelah tangan Jui dengan kedua tangannya dan mengecupnya.
“cepatlah sembuh, Ju” Cha-cha mengelus rambut Jui, namun Jui tetap bergeming, tertidur lelap.
Siang berlalu begitu saja, perlahan Jui membuka matanya dan menemukan Cha-cha dengan mata terpejam sedang mendengarkan lagu lewat ponselnya dengan volume kecil namun masih bisa Jui dengar. Lagu itu lagu yang Jui kenal juga, berjudul Lib[lo]ve. Jui turun dari ranjangnya tanpa suara dan duduk di samping Cha-cha. Gadis itu kaget ketika melihat Jui tapi Jui tersenyum.
“sudah baikan?” Cha-cha sekali lagi memegang kening Jui, panasnya sudah turun
“syukurlah, obatnya bekerja dengan baik” senyuman lega terulas di bibir Cha-cha
“kau mau menemaniku jalan-jalan? Rasanya bosan diam terus di kamar hotel seperti ini” ajak Jui seraya bangkit berdiri lalu mengulurkan tangan pada Cha-cha
Wajah Cha-cha memerah tapi ia tidak menolak tangan yang lembut itu, dalam genggaman tangan hangat Jui, Cha-cha melangkah tepat di sampingnya.

Tak lama kemudian, mereka sampai di tebing tak jauh dari hotel. Tebing itu memang agak sedikit tinggi tapi pemandangan dari tempat itu sungguh sangat menakjubkan. Matahari sore bersinar kemerahan, cantik sekali.
“kau suka mendengarkan lagu Lib[lo]ve, Cha?” tanya Jui dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Cha-cha
“un” jawab Cha-cha singkat, matanya lurus memandang senja yang mulai naik
Kini Jui menggenggam kedua tangan Cha-cha, matanya menatap lekat-lekat ke mata gadis itu
“aku ingin mengatakan sesuatu… mungkin aku sangat terlambat menyadarinya tapi sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan…” Jui menarik napas dan mengutarakan isi hatinya
“aku menyukaimu, Cha. Bukan sebagai sahabat tapi sebagai seorang laki-laki. Aku….. berharap kau mau selalu ada di sampingku” Jui tersenyum, meski hari beranjak malam, rona kemerahan di wajah keduanya tidak bisa disembunyikan
“aku akan selalu ada di sisimu, selalu” air mata menggenang di pelupuk matanya, tersenyum Cha-cha memeluk Jui

Di tengah kebahagiaan yang baru saja menghampiri, tiba-tiba Kazuki muncul menampakkan wajahnya yang tersenyum mengejek
“oh, baiklah! Jadi sekarang semuanya jelas… kau masih lebih memilih Jui daripada aku, begitu, Cha!?” kemarahan tampak jelas di matanya yang memandang lurus ke mata gadis yang sekarang berdiri di belakang Jui
“wow, aku terkejut!! Aku tidak menyangka kau mau melindunginya?! Kukira selama ini kau hanya menganggap Cha-cha sebagai SAHABAT, tidak lebih dari itu” senyum mengejek terulas di bibir dengan 3 piercing itu
“kemarilah, Cha… aku janji tidak akan menyakitimu. Kemari, kucing manisku…” Kazuki berjalan mendekat tetapi Jui masih melindungi Cha-cha dengan merentangkan tangannya
“berhenti! Sudah cukup kau mengganggunya!” Jui hendak maju untuk membawa Kazuki menjauh dari Cha-cha tapi sesuatu terjadi di luar dugaan.
“minggir kau!!” Kazuki mendorong Jui ke tepi tebing

Tanpa disangka, tepi tebing itu ditumbuhi sejumlah lumut yang membuatnya licin. Dalam hitungan detik, Jui tergelincir dan terlempar menuju laut di bawahnya. Emosi Cha-cha meledak dan ia menampar Kazuki dengan sangat keras tepat di pipi kanannya
“KAU…!!!! JANGAN PERNAH KAU MUNCUL DI HADAPANKU LAGI!!” bentak Cha-cha dengan mata berlinang air mata

Hitungan berikutnya, Cha-cha menyusul Jui dengan melompat dari tebing yang sama. Di kedalaman laut yang tengah pasang tersebut, sulit baginya mencari sosok Jui. Biarpun Cha-cha bukan seorang perenang yang handal tapi ia ingat bahwa Jui baru saja sembuh dari demamnya bukan berarti ia sudah benar-benar sehat. Cha-cha terus berenang tetapi tenaganya dengan cepat terkuras habis. Akhirnya karena tak kunjung menemukan Jui, Cha-cha hanya berserah dan berhenti bergerak, ia membiarkan dirinya tenggelam menuju dasar laut yang gelap.
Dalam air yang dingin, tiba-tiba sebuah kehangatan menyelimuti dirinya. Perlahan, Cha-cha mulai bisa menghirup udara segar daratan lagi.
“Ju… i…” hanya nama itu yang keluar dari mulutnya seketika ia membuka matanya dan menemukan wajah Jui disana
“kau tidak apa-apa, Cha?” Jui terlihat begitu cemas
“aku baik-baik saja” Cha-cha berhasil duduk dengan tenaga yang masih tersisa namun ia melihat ada yang salah dengan Jui
“kau terluka!?” sebuah luka yang masih berdarah terlihat jelas di pundak Jui
Jui meringis kesakitan ketika Cha-cha memeriksa lukanya
“mungkin tadi aku tergores karang. Sudahlah, aku tidak apa-apa. Jangan cemaskan aku” Jui tersenyum tapi lukanya terasa makin menjadi
“tutup matamu dan jangan bergerak!” pinta Cha-cha yang langsung dipatuhi Jui tanpa perlawanan 
Cha-cha merobek setengah dari pakaiannya dan langsung diikatkan ke pundak Jui untuk menghentikan pendarahan
“Cha!” Jui terkejut ketika melihat gadis itu dengan pakaian yang nyaris minim, berusaha memberikan pertolongan pertama pada luka Jui
“aku tahu apa yang akan kau katakan, tapi tunggu saja sampai kita kembali ke hotel, ok?” Cha-cha sibuk mengikatkan kain sobekan dari bajunya ke pundak Jui. Pria itu meringis tetapi berusaha untuk menahan sakitnya

Tak lama kemudian, derap langkah kaki terdengar dari kejauhan. Seorang nenek muncul dari dinding gua yang ternyata ada sebuah tangga yang menuju atas tebing.
“apa yang kalian lakukan disini, anak muda?” tanya nenek tersebut sambil mengernyitkan dahi melihat Cha-cha dengan pakaian yang tinggal setengah dan Jui yang hanya memakai celana pendek
“aa… ini tidak yang seperti nenek pikirkan. Kami… kami tadi terjatuh dari atas tebing dan pacarku terluka. Kami sungguh tidak tahu kalau ada tangga di dinding gua ini” Cha-cha membantu Jui untuk berdiri seraya menjelaskan peristiwa sebenarnya pada nenek yang tidak mereka kenal ini
“oh, nenek kira kalian berbuat macam-macam. Banyak anak muda jaman sekarang yang melakukan perbuatan di luar batas, untung saja kalian tidak sama dengan mereka-mereka…” si nenek menggeleng-gelengkan kepalanya
“ayo… ikut aku. Kita bawa dia ke klinik di dekat sini!” nenek mengarahkan lenteranya ke tangga batu dan menuntun Cha-cha juga Jui untuk diobati

Ketika mereka di klinik, Shun dan Tizza datang dengan tergesa-gesa
“Cha! Jui!” Tizza terlihat sangat cemas
“kalian tidak apa-apa?” ucap Shun yang juga terlihat khawatir akan keadaan kedua temannya
“aku tidak apa-apa, tapi Jui terluka”
“tidak, aku baik-baik saja. Jangan khawatir…” Jui melambaikan tangannya yang sehat sambil tersenyum
“syukurlah… kami benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada kalian” Tizza merebahkan dirinya di kursi terdekat, lelah karena telah berlari cukup jauh
“lalu, siapa yang memberitahu kalian kalau aku dan Jui ada di klinik ini?” Cha-cha bertanya-tanya, begitu pula Jui
“Kazuki” jawab Shun yang sekarang ikut duduk di sebelah Tizza
“Ka…zuki!?!” Cha-cha terlihat kaget sekaligus heran
“dia menceritakan semuanya padaku dan Tizza. Ia merasa sangat menyesal karena telah mencelakai kalian berdua. Ia meminta tolong padaku untuk memberikan ini padamu” Shun memberikan secarik kertas dan sebuah gelang yang terbuat dari kerang berwarna-warni

“maafkan aku, Cha. aku tidak bermaksud menyakiti kau dan Jui. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku benar-benar menyukaimu. Musim panas tahun lalu tanggal 7 Juli, aku melihatmu sedang menyiram taman bunga di halaman sekolah. Kupikir cukup aneh melihat seorang gadis melakukan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilakukan, bukankah ada tukang kebun sekolah yang merawat taman itu? tapi kau terlihat begitu berbeda, wajahmu menunjukkan kegembiraan saat melihat bunga Hydrangea yang kau rawat berkilau kebiruan. Hari itulah saat dimana aku menemukan satu tujuan dalam hidupku yang terasa membosankan ini. Tapi aku menemukan kenyataan ketika aku mencari tahu tentang dirimu… kau hanya memandang Jui dan tidak ada seseorang yang lain yang mampu mengalihkan matamu darinya. Aku tidak mau menyerah begitu saja, tapi pada akhirnya keegoisanku malah membuatmu celaka. Maafkan aku, Cha… sungguh, aku tidak bermaksud untuk menyakitmu. Ini adalah gelang yang ingin aku hadiahkan untukmu. Aku berharap kau mau memakai ini sebagai permintaan terakhirku dan aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi. Untuk hari-hari yang telah aku lalui bersama denganmu di ujung sana, terima kasih.”

Cha-cha menangis membaca surat Kazuki, di tangannya tergenggam gelang yang dihadiahkan padanya.
“kau tahu dimana dia?” Shun mengerjap kebingungan saat Cha-cha bertanya padanya
“mungkin dia masih ada di sekitar sini. Waktu aku dan Tizza kemari, Kazuki ikut bersama kami tapi ia tidak mau masuk ke dalam klinik”
“bolehkah aku?” pertanyaan singkat itu dilontarkan kepada Jui
“ya. Temuilah dia…” Jui mengangguk sambil membelai rambut Cha-cha
“terima kasih, Ju” Cha-cha bergegas berlari ke luar dan mencari sosok Jui di tengah keremangan lampu jalanan yang sepi

Tidak perlu usaha keras, di seberang jalan duduklah Kazuki di pinggiran taman. Cha-cha menghampiri Kazuki dan pria itu terkejut saat melihat gadis yang masih disukainya berdiri tepat di hadapannya
“Cha-cha…” Kazuki bangkit berdiri tetapi tidak berani memeluknya walaupun ia ingin sekali
“…maafkan aku” ucap Kazuki tulus
“maafkan aku” kata-kata yang terlontar dari mulut Cha-cha membuat Kazuki terperangah
“aku sudah mengatakan hal yang tak pantas untuk dikatakan. Jangan menghilang dari hadapanku, Kazuki. Walaupun aku tidak bisa menyukaimu sebagai seorang kekasih, tapi aku bisa menyukaimu sebagai seorang sahabat. Kau orang yang baik, aku tahu itu” Cha-cha tersenyum dengan air mata yang mengalir di pipinya
“jadi, kau sudah memaafkanku?” Kazuki tersenyum begitu lega, matanya berkaca-kaca
“ya” balas Cha-cha juga dengan senyuman
“terima kasih”

Sejak liburan musim panas tahun itu, Kazuki tidak lagi berusaha untuk merebut Cha-cha dari Jui tetapi ia menjadi sahabat Cha-cha selain Tizza dan Shun. Kazuki yang sekarang telah berubah menjadi sesosok pria yang tidak lagi egois dan Shun berpendapat bahwa inilah Kazuki yang ia kenal, orang yang pernah dan selalu menjadi sahabatnya.
Jui dan Cha-cha banyak menghabiskan waktu berdua tetapi tidak jarang mereka bersama-sama dengan Shun dan Tizza melakukan double-date.
“tutup matamu” ucap Jui pada Cha-cha saat sedang berada di puncak bianglala Tokyo Disneyland. Pemandangan senja sangat mendukung momen tersebut
“nah, sekarang kau boleh membukanya” perlahan Cha-cha membuka matanya dan melihat sebuah kalung bergambar hati tergantung di lehernya
“ini bukti bahwa hatimu adalah milikku, dan hatiku selalu menjadi milikmu” Jui tersenyum manis
“Jui” kecupan hangat mendarat di bibir Cha-cha, masih tersenyum kecil, Jui memeluk erat kekasihnya
you’ll always be mine
終り



では (・ω・)/

Lib[lo]ve part 3

Chapter 3            The Wits End

                Siang itu sepulang sekolah, Cha-cha mencari Jui tetapi kemana pun ia mencari, Jui tidak dapat ditemukan
“Zaa, kau lihat Jui?” tanya Cha-cha saat Tizza sedang mengobrol berdua dengan Shun dan hendak pulang
“tidak… kau lihat, Shun?”
“sepertinya dia sudah pulang. Tasnya pun sudah tidak ada di kelas” Shun mengerling ke dalam kelas yang sekarang nyaris kosong
“hmm, begitu ya…” raut sedih di wajah Cha-cha jelas tergambar, ia terpaksa tersenyum pahit
“kau bertengkar lagi dengan Jui?” Tizza melihat ada sesuatu yang berubah di antara Cha-cha dan Jui semenjak kejadian yang melibatkan Kazuki seminggu lalu
“tidak, tidak sama sekali. Hanya saja, rasanya Jui menjauhiku akhir-akhir ini. aku tidak merasa pernah berbuat salah padanya” air mata menggenang di pelupuk matanya namun tidak dibiarkan mengalir
“mungkin dia sedang banyak urusan sehingga Jui tidak sempat berpamitan denganmu. Sudahlah, jangan dipikirkan ya…” Tizza menepuk pundak Cha-cha
“kau mau pulang bersama kami?” sahut Shun sambil tersenyum menenangkan
“tidak, terima kasih. Aku masih harus menyelesaikan laporan OSIS sebelum deadline nya berakhir. Kalian duluan saja”

Sepeninggalan kedua sahabatnya itu, Cha-cha duduk sendirian di dalam kelas, menatap kosong kertas laporan di atas mejanya. Tiba-tiba Kazuki muncul mengagetkan Cha-cha yang sedang melamun.
“selamat sore, tuan putri!” seringaian lebar menghias bibir tipis Kazuki
Lamunan Cha-cha buyar seketika dan tidak perlu waktu lama untuknya berpikir, ia cepat-cepat membereskan semua barang yang masih ada di atas mejanya
“kenapa terburu-buru begitu? Kau takut padaku?” sekarang Kazuki berdiri di depan meja Cha-cha, tersenyum melihat gadis itu dengan cepat membereskan tasnya

Cha-cha tidak mengeluarkan sepatah kata pun seraya bangkit berdiri dan menghindari kontak mata dengan Kazuki. Tapi pria itu sempat melihat wajah Cha-cha yang tertunduk itu, air mata masih membasahi pipinya. Ketika Cha-cha hendak melangkah keluar, Kazuki menahannya dengan memegang tangannya
“siapa yang buat kau menangis!?” Cha-cha memandang lurus ke arah Kazuki dengan air mata yang lagi-lagi ditahan selama yang ia bisa
“bukan urusanmu!” ucap Cha-cha dingin, menyentak tangannya dengan kasar 
Belum kakinya melangkah jauh, tiba-tiba Kazuki memeluk Cha-cha dari belakang
“lepaskan aku sebelum aku berteriak!” tubuhnya bergetar karena marah
Pelukan itu merenggang tapi saat Cha-cha berbalik untuk memberi pelajaran pada Kazuki, sesuatu terjadi di luar dugaannya. Pria itu mendaratkan sebuah ciuman di bibir Cha-cha, yang langsung mundur karena kaget
“apa… apa-apaan kau!!?” matanya terbelalak memandang Kazuki yang sekarang tertawa puas
“sesuai dugaanku… yang tadi itu ciuman pertamamu, bukan?” wajah Cha-cha merona merah, bercampur antara malu dan marah
“tinggalkan aku sendiri! Pergi kau!!!!” air mata Cha-cha merebak, emosinya tidak terkontrol
“ok ok, maafkan aku. Aku salah karena telah mencuri ciuman pertamamu, maafkan aku” Kazuki membungkuk dalam, memohon gadis itu memaafkan ketidaksopanannya
“kubilang pergi! PERGI!!!” tangannya memukul-mukul Kazuki, menyuruhnya pergi meninggalkannya
Ketika tangan itu nyaris menampar wajah tampannya, Kazuki berhasil menangkap pergelangan tangannya
“kalau bukan aku, tapi Jui yang sekarang berdiri di hadapanmu, apakah kau akan memukulinya juga?” sorot tajam mata Kazuki membuat Cha-cha terhenyak
“itu… bukan urusanmu. Cepat pergi… kumohon…” Cha-cha terduduk di lantai dengan sebelah tangannya yang masih dalam genggaman Kazuki
“aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, Cha. Karena aku bukan Jui” lengannya membawa Cha-cha ke dalam pelukannya namun kali ini gadis itu bergeming, ia hanya menangis.

Sementara itu masih di gerbang sekolah, Jui merogoh saku celananya, bermaksud mencari ponselnya
“sial! Mungkin tertinggal di kelas…” Jui berbalik arah menuju ruang kelasnya lagi
Langkahnya terhenti ketika mendengar isak tangis di depan pintu kelas, matanya membesar ketika melihat Kazuki sedang memeluk gadis yang ia lindungi sejak kecil. Tanpa basa basi, Jui langsung masuk, Cha-cha terlonjak kaget tapi Kazuki tidak
“Ju… Jui…” mata Cha-cha yang merah, kembali dibasahi air mata ketika menemukan sosok yang ia cari
“apa yang kau lakukan padanya!? Lepaskan dia!” kemarahannya langsung meledak dan seketika itu juga Jui mendorong Kazuki menjauh dari Cha-cha
“aku hanya menenangkannya, itu saja. Apa kau tahu siapa yang telah membuatnya menangis?” Kazuki melirik Cha-cha yang sekarang sedang tertunduk memandang sepatunya
“Kau!” Kazuki berkata seolah-olah Jui telah melakukan sebuah kesalahan besar
“cukup, Kazuki… bukan hakmu berbicara seperti itu!” Pria itu kini memandang heran pada satu-satunya gadis yang ada disana
“kita pulang!” Jui mengambil ponselnya yang tertinggal di laci mejanya, lalu menarik Cha-cha dengan kasar
“hati-hati di jalan, Cha” Kazuki tersenyum saat kedua orang itu pergi dengan perasaan yang tidak menentu

Sepanjang perjalanan pulang, Jui tidak berbicara apapun begitu pula Cha-cha. Namun saat sedang berjalan di jalan sepi dekat rumah mereka, Jui membuka mulutnya
“apa yang tadi kau lakukan dengan Kazuki? Bukankah sebelumnya kau bilang kau membencinya karena selalu mengikutimu, mengganggumu… tapi tadi, kenapa kau mau dipeluk olehnya? Jawab aku, Cha!” emosi Jui meledak tanpa bisa dikontrolnya, ia mengepalkan kedua tangannya, takut-takut melukai Cha-cha yang sekarang tertunduk sedih
“kau tidak perlu berteriak begitu padaku, Ju…” linangan air mata kembali membasahi pelupuk matanya. Ini kali pertama Jui semarah itu pada Cha-cha
“…aku memang tidak pernah menyukai Kazuki… tapi kau yang sekarang membuatku melihat bahwa ada sisi baik yang masih bisa diterima darinya. Aku kesepian, Ju…  selama seminggu ini kau menjauhiku, aku bertanya-tanya apa salahku? Tapi kau tidak pernah memberikan kesempatan untukku bertanya, kau… kau…” Cha-cha menghela nafas panjang, lelah berbicara dalam isakan tangis. Ia tidak melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba Jui memeluknya dengan erat
“maafkan aku, Cha… hanya saja aku merasa kesal bila melihat Kazuki mendekatimu, aku… karena kau sahabatku, aku tidak ingin melihat dia melukaimu”

Selesai Jui berbicara, Cha-cha melepaskan diri dari pelukan Jui dengan wajah terluka
“kupikir akhirnya kau bisa menyukaiku lebih dari seorang sahabat, tapi mungkin harapanku tidak lebih dari sekedar mimpi. Kau tidak pernah mencoba untuk mengerti perasaanmu sendiri, Ju…” tanpa berpikir dua kali, Cha-cha pergi meninggalkan Jui sendiri di tengah temaramnya lampu jalanan.

Liburan musim panas dimulai hari ini dan sekolah diliburkan. Jauh hari sebelumnya Tizza dan Shun telah membuat sebuah rencana liburan ke pantai bersama, tetapi mereka belum tahu masalah yang baru saja terjadi kemarin antara Cha-cha dan Jui
“selamat pagi, Chaaachiinngg!!” suara yang nyaring itu membuat Cha-cha langsung terbangun dari tidurnya dan menemukan Tizza yang sedang tersenyum lebar di depan wajahnya
“aaahh… aku masih mengantuk, Za…” Cha-cha bergelung lagi, tapi tidak benar-benar tidur kembali
“oh, ayolah! Aku sudah tidak sabar ingin menginjak pasir di pantai… melihat birunya lautan… bersama Shun… hihihihi” gadis yang kini duduk di samping tempat tidur itu terkikik sambil menerawang
“ayo cepat bereskan barangmu, Cha!! cepat… cepat!!” seru Tizza tidak sabar

Akhirnya tanpa perlawanan, Cha-cha bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi dan bersiap-siap. Ketika ia selesai dan turun ke dapur untuk sarapan, Tizza dan Shun yang sedang menyantap sandwich buatan Rame-nii terlonjak kaget, begitu pula kakaknya.
“apa yang terjadi dengan matamu!?” Rame-nii merasa heran melihat adiknya memakai make up begitu tebal di sekitar matanya
“kita ini hanya mau liburan ke pantai, bukan ke pesta, Cha” Tizza buru-buru menghampiri Cha-cha yang sekarang salah tingkah. Shun hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak ingin ikut campur

Tizza membawa Cha-cha kembali ke kamarnya dan sedikit memperbaiki riasan Cha-cha. Tiba-tiba saat Tizza sedang menyapukan eye shadow, pertanyaan pertama yang dilontarkannya kembali mengingatkan Cha-cha akan kejadian kemarin.
“kau bertengkar lagi dengan Jui ya?” tangan Tizza sibuk memakaikan warna pastel di kelopak mata Cha-cha yang terpejam
“darimana kau tahu?”
“tak perlu katakana pun, semuanya tergambar jelas di wajahmu. Tidak biasanya kau semuram ini, biasanya kau yang selalu merengek padaku untuk cepat-cepat menuju pantai. Tapi hari ini berbeda, sepertinya kau tidak benar-benar tertarik untuk pergi ya?”
“apa Jui akan ikut bersama kita?” ucap Cha-cha selagi Tizza membereskan alat make-up
“tentu saja. Hm.. mungkin saat ini dia sedang berada di bawah bersama Shun dan Rame-nii” melihat wajah Cha-cha yang tertekuk, Tizza menarik tangannya
“ayo, mereka semua pasti sudah menunggu. Senyumlah sedikit, mukamu itu sungguh terlihat menyedihkan”
Mereka berdua turun ke ruang tamu dan benar saja, disana Jui sedang duduk dan mengobrol bersama Shun dan Rame-nii
“sudah siap? Kita berangkat sekarang” Shun yang sudah tidak sabar ingin pergi, bangkit berdiri dari sofa dan langsung keluar menyalakan mesin mobil

Jui menyadari bahwa Cha-cha berusaha menutupi matanya yang sehabis menangis dengan make up, tapi dia memilih untuk tidak banyak menyinggung perasaan gadis itu hari ini.
“aku pergi, Rame-nii” Cha-cha mengecup pipi kakaknya
“hati-hati di jalan ya, adik-adikku yang manis!” Rame melambaikan tangan ketika mobil yang dikemudikan oleh Shun mulai melaju membawa mereka menuju pantai. 

1 jam kemudian, aroma laut dan hamparan pasir menyambut mereka dengan matahari yang bersinar sangat terik. Shun dan Jui langsung memasang tenda kecil agar barang-barang mereka tidak kepanasan sedangkan Tizza dan Cha-cha berganti pakaian dengan baju renang.
“apa kau masih belum menyadari perasaanmu sendiri?” Shun tiba-tiba melontarkan pertanyaan tersebut ketika mereka sedang menancapkan pancang-pancang kayu ke pasir
“maksudmu?” Jui pura-pura tidak mengerti padahal ia tahu bahwa Shun sedang membicarakan Cha-cha
“dia gadis yang baik… tak perlu kubilang pun, seharusnya kau sudah mengenalnya  lebih baik dariku. Tapi aku masih tidak mengerti kenapa kau tidak pernah menghargai perasaannya, padahal kau sendiri menyukainya juga. Benar?” Jui diam sesaat lalu menjawab semua keraguan yang selama ini dia pendam sendiri
“aku memang menyukainya, Shun… benar-benar menyayanginya lebih dari seorang sahabat, tapi aku takut… aku takut kalau aku menyatakan hal ini padanya, apakah hubungan kami akan sebaik saat aku dan dia masih bersahabat? Aku hanya mengkhawatirkan hal itu…” Jui duduk di bawah tenda yang sudah selesai dipasang beralaskan tikar kain berwarna biru muda
“kurasa kau sudah bisa melihat contohnya padaku dan Tizza, dulu kami bersahabat tapi ya… bukan teman sejak kecil seperti kau dan Cha-cha. Aku bertemu dengannya saat SMP dan dialah yang menyadarkanku hingga seperti sekarang. Kau tentu tahu, dulu aku ini seorang berandalan, anak yang tidak bisa diatur sampai Tizza datang dan semuanya berubah. Kami mulai semuanya dengan persahabatan dan akhirnya aku menyadari satu hal lagi kalau aku menyukainya. Aku tidak ingin hanya memendam perasaan itu apalagi sampai melihat ada orang lain yang memiliki hatinya selain aku. Karena itu aku memberanikan diri untuk menyatakannya dan ternyata Tizza pun memiliki perasaan yang sama padaku. Sungguh suatu keajaiban memiliki dia di sampingku hingga hari ini” Shun tersenyum lebar sambil memandang langit-langit tenda
“Jadi apa keputusanmu?” lanjut Shun sambil menatap Jui yang sedang lurus memandang laut
“baiklah, aku akan menyatakan perasaanku yang sebenarnya sore ini. Semoga ini keputusan yang benar” Jui tersenyum simpul

Tak lama kemudian, Cha-cha dan Tizza yang dalam balutan baju renang datang sembari membawa 4 mangkuk es serut
“Shun, ini untukmu”  Tizza memberikan es serut dengan siraman sirup strawberry di atasnya
“terima kasih, Tizza chan” senyum manis Shun membuat Tizza merona seketika
“ini” Cha-cha memberikan salah satu mangkuk es serut di tangannya, keduanya rasa jeruk dan anggur
“terima kasih” Jui mengambilnya lalu tersenyum sendiri
“kenapa kau senyum-senyum begitu?” Cha-cha memalingkan wajahnya karena gara-gara melihat Jui, ia jadi ingin tersenyum juga
“syukurlah… akhirnya kalian baikan juga” Tizza menepuk pundak Jui sambil tertawa
“sini, duduk di sebelahku” Jui menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya
“eh, Shun, bukankah kau bilang ingin makan yakisoba? Tadi aku menemukan warung pantai di dekat tempat penjual es serut” Tizza mengedipkan mata pada Shun dan kekasihnya mengerti apa yang dimaksudkan gadis yang memakai baju renang berwarna peach itu
“hm, kalau begitu kami pergi yakisoba dulu. Kalian disini saja, nanti kami belikan”

Namun masalah baru tiba-tiba datang. Saat Shun dan Tizza berdiri, Kazuki menghampiri mereka sambil tersenyum menyapa
“oh, halo! Tak kusangka bisa bertemu kalian di sini. Sungguh suatu kebetulan!” ucap Kazuki sambil melambaikan tangan
“apa yang kau lakukan disini, Kazu?” nada bicara Shun langsung berubah drastis, ia tidak suka Kazuki mengganggu acara liburannya
“aku? Tentu saja aku datang kesini untuk bermain. Selain itu…… aku ingin menghabiskan liburan dengan kekasihku. Iya kan, Cha?”

Entah gurauan apa yang dilontarkan Kazuki, Cha-cha yang tadinya tidak ingin memandang wajah pria itu langsung tersentak kaget dan langsung berdiri. Tapi sayangnya, sebelum Cha-cha mengeluarkan kata-kata pembelaan, Jui terlebih dahulu sudah memukul wajah Kazuki
“Jui… cukup, Ju! Jangan menambah runyam masalah, ok?” Shun menahan Jui yang bermaksud untuk menghajar Kazuki lagi
Darah segar keluar dari ujung bibirnya dan ia berjalan menghampiri Jui, ingin membalas penghinaan karena telah memukul wajah tampannya
“hentikan!” Cha-cha diam di antara Jui dan Kazuki, tangannya dihadapkan ke arah Kazuki
“oh, jadi kau masih saja membelanya? Hebat benar Jui itu ya… sampai membuatmu ingin melindunginya seperti ini. Dengar, Jui… kemarin aku sudah mencuri ciuman pertama Cha-cha! dan itu adalah bukti bahwa aku lebih berhak memilikinya daripada kau, pengecut!” Kazuki mulai naik darah, matanya berkilat marah
Jui tertegun, kaget mendengar kenyataan bahwa bibir Cha-cha telah dinodai oleh pria yang ingin ia hajar. Jui melihat Cha-cha menurunkan tangannya tetapi sedetik kemudian, ia menampar Kazuki tepat di wajahnya
“pergi kau dari sini! Pergi!!! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, bajingan!!!” air mata Cha-cha merebak dan emosinya mulai tidak bisa dikontrol. Melihat hal itu, Tizza langsung menyeret Kazuki menjauh
“kumohon, pergilah! Aku tidak kenal siapa kau tapi yang ku tahu, kau telah membuat semuanya berantakan!” Tizza memohon
Tanpa berbicara sepatah kata pun, Kazuki meninggalkan Tizza. Sementara di tempat lain, Jui duduk berdampingan dengan Cha-cha tapi tak satu pun dari mereka membuka mulut untuk berbicara. Shun melihat Tizza sedang berjalan kembali tapi raut wajahnya muram. Liburan mereka baru akan dimulai dan tidak akan kembali setelah 3 hari, sesuai dengan rencana mereka.

では (・ω・)/

Lib[lo]ve part 2

Chapter 2            Turning to the Edge

Sesampainya di rumah, Cha-cha menyeduh teh untuk menenangkan pikirannya. Ia baru sadar kalau ternyata kue tart yang diberikan Kazuki dibawa pulang olehnya 

“adikku yang maniiiissss… selamat ulang tahun ya!” kakak Cha-cha, Rame datang sambil membawa sebuah kantong di tangannya
“arigachu, Rame-nii’!” Cha-cha terlihat senang saat menerima bungkusan yang cukup besar itu
“wah, kau salah alamat kalau memberikan baju seperti ini untukku” Cha-cha bingung menatap sebuah gaun Lolita berenda-renda
“seleraku bagus bukan?” Rame terkekeh sambil mengacungkan dua jempol tangannya
“yaaa,, bagus, bagus…” sahut Cha-cha cuek sambil menyeruput tehnya
“ini kue dari siapa, Cha?” Rame membuka kotak kue tersebut lalu memotongnya dan cuek memakannya
“dia bilang namanya Kazuki, kelasnya di sebelah kelasku”
“kau tidak mengenalnya?” Rame asik memakan kuenya di potongan ke dua
“tidak” Cha-cha hanya menggelengkan kepalanya
“aaahh!! Aku lupa tugasku!!!” ia langsung bangkit berdiri lalu mengambil semua barangnya
“habiskan saja kuenya,, aku sudah kenyang. Dan, terimakasih untuk hadiahnya, Rame nii!” Cha-cha tersenyum, meninggalkan Rame yang terlihat bahagia dengan kue di depannya

Tanpa terasa, jarum jam menunjukkan pukul 11. Semua tugas sudah selesai dikerjakan tapi Cha-cha masih belum mengantuk. Diambilnya kotak berisi kalung pemberian Jui dari dalam tas lalu menatap lekat-lekat liontin bergambar malaikat itu

“andai saja aku bisa benar-benar menjadi malaikatmu… aku ingin selalu membuatmu tersenyum setiap hari, aku ingin melindungimu… dan aku tidak akan bosan mengatakan hal yang sama setiap harinya,, aku menyukaimu, Jui…” Cha-cha tersenyum tapi air mata mengalir di pipinya, dadanya kembali sakit. 
Tersadar, ia terduduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya, tangisnya meledak seakan air mata ikut menangis untuknya 
“Cha…” tiba-tiba Rame masuk dan kaget ketika melihat adik satu-satunya itu sedang penuh dengan tangisan

Tanpa perlu kata-kata, Rame duduk di sebelah Cha-cha lalu memeluknya. Setelah tangisnya mereda, Rame menyeka air mata di wajah yang penuh kesedihan itu
“sudah kubilang berapa kali, kan? Wajahmu itu jelek kalau menangis” mata Cha-cha masih berkaca-kaca tapi dia menggigit bibirnya untuk memaksa tangisnya tidak meledak lagi
“Jui?” satu kata yang keluar dari mulut Rame membuat mata Cha-cha terbelalak
“kau pasti kaget kenapa aku bisa tahu kau menangis gara-gara dia” Rame tersenyum menenangkan. Cha-cha hanya membuang pandangannya ke arah lain
“tadi dia mencarimu. Kebetulan aku sedang mencari inspirasi untuk lagu baruku, Jui datang sambil membawa pie apel buatan ibunya. Jui sangat mengkhawatirkanmu, tahu? Dia sudah bercerita semuanya padaku, tapi bukan berarti dia seorang yang senang mengumbar masalah. Kau pasti tahu sendiri, sejak dulu aku seperti memiliki dua orang adik, kau dan Jui.”
“kau tahu kalau aku menyukainya?” matanya menatap dalam mata kakaknya
“tentu saja. Bahkan sebelum kau mengatakannya, aku sudah bisa melihat kau selalu memandang Jui dengan tatapan yang berbeda, aku tahu kau sangat menyayangi Jui, bukan hanya sebagai sahabat baik tetapi aku tahu kau mencintainya”
“aku berjanji padanya untuk menjadi diriku yang ceria lagi mulai besok, tapi apa aku sanggup melihat wajahnya tanpa merasa sedih sedikit pun?” air matanya kembali mengalir
“dengar… biar waktu yang memberikan semua jawaban dari pertanyaanmu itu. Aku tidak punya hak untuk mencampuri masalah ini, karena hanya kalian berdua yang bisa menyelesaikannya…”
 “…sekarang tidurlah. Kurasa aku pun sudah mulai mengantuk” Rame bangkit berdiri lalu menguap
“terimakasih, Rame nii” ucap Cha-cha lirih
“hmm. Selamat tidur, Cha” Rame menutup pintu kamar Cha-cha lalu memencet tombol-tombol nomor di ponselnya
“moshi-moshi?” sahut suara di seberang sana
“kau tak perlu khawatir, Jui… sekarang dia baik-baik saja”
“syukurlah…” suaranya terdengar lega

Selesai pembicaraan di telepon dengan Rame, Jui langsung menulis pesan singkat yang lalu dikirimkan ke Cha-cha
“besok pagi tunggu aku, kita pergi bersama (senyum). Oyasumi!”
Cha-cha yang membaca pesan itu tersenyum kecil sambil memandang kalung malaikat yang sekarang tergantung di lehernya
“oyasumi, Jui… “ lalu Cha-cha pun terlelap dengan mata yang masih basah karena air mata.

Mentari pagi bersinar hangat mengiringi langkah kedua sahabat yang sedang berjalan menuju stasiun
“um… aku minta maaf lagi soal kemarin itu, aku…” sebelum Jui menyelesaikan kalimatnya, Cha-cha memotongnya
“aku yakin ingatanmu masih baik, Ju… aku tak perlu mengulanginya lagi, kan? Bukankah sekarang aku sudah kembali menjadi Cha-cha yang biasanya?” senyum kecil mengembang di bibirnya. Jui mengangguk patuh sambil balas tersenyum.
“kau… liontin itu kau pakai…” Jui memperhatikan sebuah benda yang berkilau menggantung di leher Cha-cha
“tentu saja! ini kan hadiahku” ucap Cha-cha sambil meleletkan lidah mengejek
Jui tertawa lega melihat gadis di depannya itu sudah kembali seperti dulu. Setelah setengah hari mereka belajar, bel istirahat pun berbunyi. Namun seseorang yang tidak disangka-sangka mulai bergerak menjalankan rencananya.

“Cha-cha-cha…!!” suara riang itu menyapa Cha-cha yang sedang asik melahap kotak makan siangnya
“kau?!” ekspresi terkejut tergambar jelas di wajah Cha-cha ketika melihat Kazuki datang menghampiri mejanya. Kazuki sama sekali tidak mempedulikan Jui, Shun, dan Tizza yang juga ada disana
“temani aku ke kantin, yuk! Aku traktir deh” Kazuki mengedipkan sebelah matanya lalu senyum manis terulas di bibir tipisnya
“maaf, aku tidak bisa” jawab Cha-cha spontan sambil meneruskan makan siangnya
“Shun, bukankah dia Kazuki anak kelas sebelah?” bisik Tizza sepelan mungkin di telinga Shun
“ah, halo Shun! Sudah lama kita tak berjumpa” Shun masih menatap dingin ke arah Kazuki ketika pria itu menyapanya
“dan kau… pasti Jui. Kenalkan, aku Kazuki, aku orang yang akan mengganti posisimu di hati Cha-cha” ucap Kazuki tanpa basa basi. Ketika Jui hendak membalas, tiba-tiba Cha-cha bangkit berdiri dan menarik lengan Kazuki untuk menjauh dari tempat itu

Di atap sekolah, Cha-cha membawa Kazuki dengan marah
“apa-apaan kau?! Kenapa kau bicara seperti itu pada Jui?!!” Cha-cha terlihat sangat kesal namun Kazuki malah sebaliknya, sikapnya masih santai
“ups, maaf, aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Kulihat kau begitu dekat dengan Jui, aku hanya ingin mendapat perhatian seperti kau memperhatikan Jui. Aku menyukaimu, Cha... jadilah pacarku!” Kazuki memegang tangan Cha-cha yang langsung menepisnya
“jangan harap kau bisa jadi pacarku! Mulai sekarang, menjauh dariku!” seru Cha-cha seraya beranjak pergi meninggalkan Kazuki dengan wajah terkejut 
Setelah atap sekolah sepi kembali, senyum kecil mengembang di sudut bibir tipisnya 
“baru kali ini ada gadis yang menolakku mentah-mentah. Kita lihat nanti, kau pasti bisa kudapatkan”

Sementara di kelas, Tizza meminta Shun untuk menjelaskan siapa Kazuki itu
“dulu dia teman baikku. Tapi sudah beberapa tahun ini dia berubah sama sekali, aku seperti tidak mengenalnya lagi. Entah mungkin karena sekarang ia dan keluarganya menjadi orang kaya, ia menjadi seorang Kazuki yang sering menggunakan uang untuk mencapai apapun yang ia mau” jelas Shun sambil memandang keluar jendela kelas, wajahnya berubah sedih
“tapi sekarang kau sudah mendapat sahabat baru kan? Kita semua disini untukmu, Shun” Tizza menggenggam tangan Shun. Shun hanya tersenyum kecil, menyembunyikan kenangan lama saat ia dan Kazuki sering melewatkan waktu bersama.

Semenjak kejadian tadi siang, Jui tidak banyak bicara. Kata-kata yang dilontarkan Kazuki membuat merasakan ada sesuatu yang salah dengan hatinya, tetapi Jui lebih memilih diam.
“Ju, kau tidak…  Jui?” Cha-cha memegang kening Jui
“hah? Apa? apa yang kau lakukan, Cha!?” Jui terlihat kaget ketika tangan dingin Cha-cha menyerap panas kepalanya
“kau ini sedang melamunkan apa sih? Dari tadi aku mengajakmu bicara tapi kau malah berpikir kemana-mana…” bibir Cha-cha mengerucut, sebab Jui hanya membalas pertanyaannya dengan tersenyum pahit
“kalau begitu, kau pulang saja duluan. Aku masih harus membeli bahan untuk makan malam” tanpa basa-basi  lagi gadis itu meninggalkan Jui yang sekarang memandang lurus ke arah punggung Cha-cha sampai sosoknya menghilang di kejauhan
“ada apa denganku hari ini?! sial…” Jui mengumpat sendiri sementara kakinya menuntunnya langsung pulang ke rumahnya

Di jam-jam sore seperti ini, supermarket penuh dengan wanita paruh baya yang juga berbelanja untuk makan malam, Cha-cha yang sudah cekatan tidak perlu waktu lama untuk langsung menyelesaikan tugasnya. Matahari sudah berganti bulan saat Cha-cha berjalan pulang sambil menenteng 2 kantung besar berisi belanjaannya. Tapi tiba-tiba, ia merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya dari belakang. Tanpa perlu pikir panjang lagi, Cha-cha langsung mempercepat langkahnya namun orang misterius tersebut pun ikut melangkah dengan cepat. Cha-cha sudah mulai ketakutan dan hendak menelepon kakaknya untuk menjemputnya tapi kantung yang dibawanya sungguh sangat merepotkan sehingga ia tidak bisa mengambil ponselnya. Cha-cha bisa merasakan bahwa orang tersebut mendekat, tapi tiba-tiba sebuah Porsche berwarna silver berhenti tepat di depannya.
“masuk!” seru orang yang mengendarai mobil itu yang terakhir Cha-cha kenal sebagai Kazuki
Tanpa aba-aba selanjutnya, mobil itu melesat dengan Cha-cha aman di dalamnya
“kenapa kau… bisa…??!” ucap Cha-cha terbata-bata karena bingung dengan apa yang baru saja terjadi
“kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa muncul di depanmu kan? Baik, pertama aku minta maaf karena telah mengikutimu semenjak pulang sekolah, tapi bukankah suatu keberuntungan untukmu karena aku telah menyelamatkanmu dari orang jahat?” Kazuki menyeringai puas tanpa sedikit pun rasa menyesal karena telah membuntuti Cha-cha
“kuhargai bantuanmu, terima kasih. Tapi kenapa kau mengikutiku hah? Kau ini benar-benar aneh… bukankah sudah kubilang….”
“jangan mendekatimu lagi dan pergi jauh darimu?” Kazuki memotongnya lalu pecahlah tawanya
“apa yang kau tertawakan!?” Cha-cha mulai gusar, matanya memandang tajam pria tampan namun sangat menyebalkan itu di sampingnya
“kau benar-benar gadis yang menarik ya, Cha… dengar dengan baik! Mulai saat ini, aku bersumpah akan membuatmu menyukaiku, tidak lagi JUI” Kazuki menekankan nada suaranya saat menyebut nama Jui dan itu membuat Cha-cha semakin marah
“berhenti! turunkan aku disini!” sesuai permintaan, Kazuki langsung menepikan mobilnya
“kau yakin ingin turun disini? Ini masih belum sampai rumahmu lho, tuan putri...” tidak sedikitpun rasa bersalah yang tergambar di muka Kazuki, senyumnya malah masih mengembang
“terima kasih atas tumpangannya tapi lebih baik aku berjalan daripada harus mendengarmu menjelek-jelekkan Jui!! Selamat tinggal!” Cha-cha membanting pintu mobilnya dan langsung berjalan cepat tanpa menengok lagi ke belakang
Di dalam Porsche itu Kazuki mengeluarkan ponselnya lalu suara di seberang sana menjawab teleponnya
“semuanya berjalan sesuai dengan rencana, Tuan muda”
“bagus… sekarang tinggal kita jalankan rencana selanjutnya. Aku hanya menginginkan dia menjadi milikku, HARUS menjadi milikku!” senyum licik kembali terlukis di atas bibir tipis dengan piercing itu. Kazuki menginjak gas dalam-dalam dan membawa Porsche nya melesat dalam keremangan lampu kota di Tokyo malam itu.

-end part2-

mohon ditunggu part3 nya yaa... ;)